Rabu, 11 September 2019

materi sistem konsinyasi kelas 12 tgl 11 sept 2019

Kelebihan dan Kekurangannya Sistem Penjualan Konsinyasi


Dalam dunia bisnis ada banyak cara untuk mendapatkan keuntungan. Baik metode, sistem, cara, perjanjian atau apapun akan dilakukan oleh para pelaku usaha demi meningkatkan penjualan produknya.  Salah satu metode yang dipakai yakni penjualan konsinyasi. Secara definisi, penjualan konsinyasi merupakan suatu perjanjian antara dua pihak dimana salah satu pihak sebagai pemilik barang menyerahkan barangnya kepada pihak tertentu untuk menjualnya dan kemudian akan mendapatkan komisi tertentu. Pihak pemilik barang disebut consignor sementara pihak yang dititipi atau menjual barang disebut dengan consignee.
Sistem penjualan konsinyasi sendiri sudah banyak dilakukan, diantaranya bidang makanan, elektronik dan bidang usaha lain. Apakah Anda berpikir mengapa banyak pelaku usaha yang menerapkan sistem penjualan konsinyasi? Hal ini karena penjualan konsinyasi memiliki kelebihan yang dipilih oleh para pelaku usaha. Namun, sama halnya dengan sistem atau metode atau cara lain, penjualan konsinyasi juga memiliki kelemahan nya sendiri. Berikut beberapa kelebihan dan kelemahan penjualan konsinyasi yang perlu Anda ketahui.

Kelebihan Penjualan Konsinyasi


1. Bagi pemilik produk atau consignor

  1. Memperluas pasar dan menghemat biaya promosi
Dengan melakukan perjanjian penjualan konsinyasi, pihak consignor akan memperoleh keuntungan seperti memperluas pasar dan menghemat biaya promosi. Produk Anda dapat dipasarkan sesuai keinginan Anda di toko atau tempat yang sudah memiliki pelanggan sehingga Anda tidak perlu mengeluarkan biaya promosi di tempat tersebut.
  1. Menghemat SDM dan biaya pelayanan
Produk yang dititipkan kepada pihak penjual tentu saja akan dijual oleh mereka. Sehingga Anda tidak perlu melayani konsumen atau pelanggan secara langsung. Dengan demikian cara ini dapat menghemat SDM untuk melakukan pemasaran maupun biaya pelayanan.
  1. Fokus terhadap produk
Kelebihan selanjutnya yang dapat diperoleh consignor adalah dia dapat lebih fokus terhadap kualitas produk yang akan diproduksinya. Selain itu, Anda juga dapat melakukan inovasi-inovasi agar produk lebih unggul.

2. Bagi penjual, penyalur atau consignee

  1. Dapat keuntungan tanpa mengeluarkan modal
Seperti yang diketahui bahwa pihak penjual hanya menjual produknya saja sehingga dia akan mendapatkan keuntungan tanpa mengeluarkan modal. Biasanya penjual akan menambahkan harga dari harga yang ditetapkan. Tambahan harga tersebut merupakan keuntungan yang akan diperoleh. Selain itu, pihak penjual juga akan mendapatkan fee dari pihak produsennya.
  1. Risiko kecil
Kelebihan lain bagi penjual adalah risiko yang kecil. Risiko yang dimaksud yakni risiko jika barang tidak laku. Jika barang tidak laku atau rusak maka consignee tidak akan mengalami kerugian atas produk tersebut, hanya saja pendapatan atau keuntungannya saja uang akan menurun.
  1. Display produk bertambah
Adanya penitipan-penitipan barang atau produk akan membuat penjual menambah jumlah barang yang dijual dalam display tokonya. Selain itu, penambahan produk tersebut tanpa harus mengeluarkan modal sehingga ini akan sangat membantu penjual untuk mendapatkan keuntungan.

Kekurangan Penjualan Konsinyasi


1. Bagi pemilik produk atau consignor

  1. Risiko kerugian
Adapun risiko kerugian yang dimaksud disebabkan jika salah dalam pemilihan penjual. Jika penjual yang Anda pilih tidak menjual produk dengan baik atau produk yang ada lakunya sangat lama maka Anda dapat mengalami kerugian. Oleh karena itu, Anda juga harus memastikan penjual atau penyalur atau pihak consignee merupakan penjual yang baik dan dapat diandalkan.
  1. Promosi tidak sesuai
Karena pihak pemilik produk tidak melakukan penjualannya secara langsung, maka ada kemungkinan jika promosi yang dilakukan oleh penjual tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ya hal ini wajar jika Anda menitipkan produk kepada toko-toko kelontong, biasanya mereka tidak akan mempromosikan produk Anda. Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat menempatkan SPG di supermarket atau mall. Sementara untuk toko kelontong, dapat Anda berikan tawaran fee atau bonus yang menarik.
  1. Uang tidak dapat langsung diterima
Kelemahan terakhir dari penjualan konsinyasi bagi pemilik produk adalah pembayaran yang tidak langsung atau uang tidak dapat langsung diterima setelah produk terjual. Hal ini karena sistem pembayaran yang ada mengikuti sistem pembayaran dari penjual biasanya per minggu atau per bulan.

2. Bagi penjual atau consignee

Sistem penjualan konsinyasi tidak memiliki risiko ataupun kelemahan apapun bagi penjual. Hal ini karena produk yang dijual memang bukan produk mereka sendiri. Apakah Anda tertarik dengan sistem penjualan konsinyasi? Agar memudahkan Anda  menjalankan bisnis dengan sistem penjualan konsinyasi maka Anda dapat menggunakan software akuntansi dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan.

Selasa, 10 September 2019

Materi sistem konsinyasi kelas XII tgl 10 sept 2019




Dalam dunia bisnis ada banyak cara untuk mendapatkan keuntungan. Baik metode, sistem, cara, perjanjian atau apapun akan dilakukan oleh para pelaku usaha demi meningkatkan penjualan produknya.  Salah satu metode yang dipakai yakni penjualan konsinyasi. Secara definisi, penjualan konsinyasi merupakan suatu perjanjian antara dua pihak dimana salah satu pihak sebagai pemilik barang menyerahkan barangnya kepada pihak tertentu untuk menjualnya dan kemudian akan mendapatkan komisi tertentu. Pihak pemilik barang disebut consignor sementara pihak yang dititipi atau menjual barang disebut dengan consignee.
Sistem penjualan konsinyasi sendiri sudah banyak dilakukan, diantaranya bidang makanan, elektronik dan bidang usaha lain. Apakah Anda berpikir mengapa banyak pelaku usaha yang menerapkan sistem penjualan konsinyasi? Hal ini karena penjualan konsinyasi memiliki kelebihan yang dipilih oleh para pelaku usaha. Namun, sama halnya dengan sistem atau metode atau cara lain, penjualan konsinyasi juga memiliki kelemahan nya sendiri. Berikut beberapa kelebihan dan kelemahan penjualan konsinyasi yang perlu Anda ketahui.

Kelebihan Penjualan Konsinyasi


1. Bagi pemilik produk atau consignor

  1. Memperluas pasar dan menghemat biaya promosi
Dengan melakukan perjanjian penjualan konsinyasi, pihak consignor akan memperoleh keuntungan seperti memperluas pasar dan menghemat biaya promosi. Produk Anda dapat dipasarkan sesuai keinginan Anda di toko atau tempat yang sudah memiliki pelanggan sehingga Anda tidak perlu mengeluarkan biaya promosi di tempat tersebut.
  1. Menghemat SDM dan biaya pelayanan
Produk yang dititipkan kepada pihak penjual tentu saja akan dijual oleh mereka. Sehingga Anda tidak perlu melayani konsumen atau pelanggan secara langsung. Dengan demikian cara ini dapat menghemat SDM untuk melakukan pemasaran maupun biaya pelayanan.
  1. Fokus terhadap produk
Kelebihan selanjutnya yang dapat diperoleh consignor adalah dia dapat lebih fokus terhadap kualitas produk yang akan diproduksinya. Selain itu, Anda juga dapat melakukan inovasi-inovasi agar produk lebih unggul.

2. Bagi penjual, penyalur atau consignee

  1. Dapat keuntungan tanpa mengeluarkan modal
Seperti yang diketahui bahwa pihak penjual hanya menjual produknya saja sehingga dia akan mendapatkan keuntungan tanpa mengeluarkan modal. Biasanya penjual akan menambahkan harga dari harga yang ditetapkan. Tambahan harga tersebut merupakan keuntungan yang akan diperoleh. Selain itu, pihak penjual juga akan mendapatkan fee dari pihak produsennya.
  1. Risiko kecil
Kelebihan lain bagi penjual adalah risiko yang kecil. Risiko yang dimaksud yakni risiko jika barang tidak laku. Jika barang tidak laku atau rusak maka consignee tidak akan mengalami kerugian atas produk tersebut, hanya saja pendapatan atau keuntungannya saja uang akan menurun.
  1. Display produk bertambah
Adanya penitipan-penitipan barang atau produk akan membuat penjual menambah jumlah barang yang dijual dalam display tokonya. Selain itu, penambahan produk tersebut tanpa harus mengeluarkan modal sehingga ini akan sangat membantu penjual untuk mendapatkan keuntungan.

Kekurangan Penjualan Konsinyasi


1. Bagi pemilik produk atau consignor

  1. Risiko kerugian
Adapun risiko kerugian yang dimaksud disebabkan jika salah dalam pemilihan penjual. Jika penjual yang Anda pilih tidak menjual produk dengan baik atau produk yang ada lakunya sangat lama maka Anda dapat mengalami kerugian. Oleh karena itu, Anda juga harus memastikan penjual atau penyalur atau pihak consignee merupakan penjual yang baik dan dapat diandalkan.
  1. Promosi tidak sesuai
Karena pihak pemilik produk tidak melakukan penjualannya secara langsung, maka ada kemungkinan jika promosi yang dilakukan oleh penjual tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ya hal ini wajar jika Anda menitipkan produk kepada toko-toko kelontong, biasanya mereka tidak akan mempromosikan produk Anda. Untuk mengatasi hal ini, Anda dapat menempatkan SPG di supermarket atau mall. Sementara untuk toko kelontong, dapat Anda berikan tawaran fee atau bonus yang menarik.
  1. Uang tidak dapat langsung diterima
Kelemahan terakhir dari penjualan konsinyasi bagi pemilik produk adalah pembayaran yang tidak langsung atau uang tidak dapat langsung diterima setelah produk terjual. Hal ini karena sistem pembayaran yang ada mengikuti sistem pembayaran dari penjual biasanya per minggu atau per bulan.

2. Bagi penjual atau consignee

Sistem penjualan konsinyasi tidak memiliki risiko ataupun kelemahan apapun bagi penjual. Hal ini karena produk yang dijual memang bukan produk mereka sendiri. Apakah Anda tertarik dengan sistem penjualan konsinyasi? Agar memudahkan Anda  menjalankan bisnis dengan sistem penjualan konsinyasi maka Anda dapat menggunakan software akuntansi dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan.

Senin, 09 September 2019

Materi perhitungan harga jual kelas XII TGL 9 SEPT 2019

Perhitungan Harga Jual

Menghitung harga jual hasil produksi ( marketing ) merupakan bagian dari tahapan perhitungan terhadap penentuan kebutuhan harga bahan dasar/utama, bahan tambahan, bahan pelengkap dan semua biaya yang digunakan untuk produksi, serta keuntungan yang diinginkan sehingga dapat dipergunakan untuk menetapkan harga jual baik perpotong maupun dalam jumlah yang besar.
Langkah menghitung atau menentukan harga jual produk yaitu :
  1. Menghitung kalkulasi harga pokok, yaitu merupakan perhitungan terhadap biaya pengeluaran produksi yang terdiri dari bahan utama, bahan pelengkap / pendukung, biaya listrik dan tenaga kerja.
  2. Menghitung kalkulasi harga jual, dalam menentukan harga jual ini harus memperhatikan tentang jumlah keuntungan yang ditentukan sesuai dengan prosentase yang berlaku pada usaha tersebut.
Penetapan harga jual yang dilakukan oleh usaha busana dapat ditetapkan melalui 3 cara yaitu :
  1. Cost Based Pricing ( harga berdasarkan pada biaya produksi )
  2. Value Based Pricing ( harga berdasarkan nilai artistik yang bagus )
  3. Completition Based Pricing ( harga berdasarkan pada persaingan produksi )
Penetapan harga jual Cost Based Pricing dan Competition Based Pricing dapat digunakan untuk usaha busana bentuk garment, konveksi, tailor, modiste dan adi busana. Namun biasanya usaha busana jenis adi busana sering menggunakan tipe penetapan harga jual Value Based Pricing yang harganya bisa sangat tinggi atau di atas harga pokok produksi karena ada unsur value artistiknya yang menyebabkan busana tersebut sangat indah.
Harga jual dapat diperhitungkan dengan cara :
Harga pokok produksi + % laba + % pajak.
Harga pokok produksi = biaya tetap ( konstan ) + biaya langsung dan biaya tidak langsung.
  • Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun jumlah produksinya bertambah atau dikurangi, misalnya gaji karyawan, biaya penyusutan, biaya asuransi, biaya perawatan, sewa gedung dan mesin.
  • Biaya langsung yaitu biaya yang secara langsung masuk dalam proses produksi, misalnya bahan baku langsung, upah buruh langsung, bahan penolong, barang gagal, dan biaya lembur.
  • Biaya tidak langsung yaitu biaya yang secara tidak langsung ikut menentukan proses produksi. Misalnya penggunaan listrik.
Penentuan Laba
Penentuan jumlah prosentase (%) laba berdasarkan target atau keinginan dari pengusaha, misalnya 10% atau berdarakan persaingan yang rata-rata misalnya 12%, kemudian laba ditetapkan 12%. Perolehan persentase laba dikalikan dengan jumlah keseluruhan biaya langsung ( jasa disain, bahan pokok, bahan pelengkap, ongkos pembuatan ) ditambah dengan biaya tidak langsung dan biaya tetap.
Penentuan besar pajak
Penentuan besarnya pajak yaitu % dari ( harga pokok produksi + laba ). Besarnya persentase pajak sekitar 5% dapat berubah tergantung dari lamanya sewa gedung.
Berikut ini contoh cara menghitung harga jual busana.
Sebuah butik “Anindya Fashion” membuatkan busana pesta seorang pelanggannya dengan pengeluaran untuk bahan baku sebanyak Rp.125.000,00, jasa desain Rp. 10.000,00, bahan pembantu Rp. 7.500,00, bahan pelengkap Rp.25.000,00, ongkos jahit sebesar Rp.50,000,00 ( jahit + payet ), biaya penyusutan Rp.10.000,00, biaya sewa gedung Rp. 5.000,00 dengan laba 12% dan pajak 5%.
Berikut ini contoh cara perhitungannya.
harga jual
Dari perhitungan tersebut dapat diperoleh harga jual sebesar Rp.272.420.00, dari hasil tersebut kita bulatkan menjadi Rp. 275.000,00.

Jumat, 06 September 2019

MATERI PERHITUNGAN HARGA JUAL KELAS XII TGL 6 SEPT 2019

Perhitungan Harga Jual

Menghitung harga jual hasil produksi ( marketing ) merupakan bagian dari tahapan perhitungan terhadap penentuan kebutuhan harga bahan dasar/utama, bahan tambahan, bahan pelengkap dan semua biaya yang digunakan untuk produksi, serta keuntungan yang diinginkan sehingga dapat dipergunakan untuk menetapkan harga jual baik perpotong maupun dalam jumlah yang besar.
Langkah menghitung atau menentukan harga jual produk yaitu :
  1. Menghitung kalkulasi harga pokok, yaitu merupakan perhitungan terhadap biaya pengeluaran produksi yang terdiri dari bahan utama, bahan pelengkap / pendukung, biaya listrik dan tenaga kerja.
  2. Menghitung kalkulasi harga jual, dalam menentukan harga jual ini harus memperhatikan tentang jumlah keuntungan yang ditentukan sesuai dengan prosentase yang berlaku pada usaha tersebut.
Penetapan harga jual yang dilakukan oleh usaha busana dapat ditetapkan melalui 3 cara yaitu :
  1. Cost Based Pricing ( harga berdasarkan pada biaya produksi )
  2. Value Based Pricing ( harga berdasarkan nilai artistik yang bagus )
  3. Completition Based Pricing ( harga berdasarkan pada persaingan produksi )
Penetapan harga jual Cost Based Pricing dan Competition Based Pricing dapat digunakan untuk usaha busana bentuk garment, konveksi, tailor, modiste dan adi busana. Namun biasanya usaha busana jenis adi busana sering menggunakan tipe penetapan harga jual Value Based Pricing yang harganya bisa sangat tinggi atau di atas harga pokok produksi karena ada unsur value artistiknya yang menyebabkan busana tersebut sangat indah.
Harga jual dapat diperhitungkan dengan cara :
Harga pokok produksi + % laba + % pajak.
Harga pokok produksi = biaya tetap ( konstan ) + biaya langsung dan biaya tidak langsung.
  • Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah meskipun jumlah produksinya bertambah atau dikurangi, misalnya gaji karyawan, biaya penyusutan, biaya asuransi, biaya perawatan, sewa gedung dan mesin.
  • Biaya langsung yaitu biaya yang secara langsung masuk dalam proses produksi, misalnya bahan baku langsung, upah buruh langsung, bahan penolong, barang gagal, dan biaya lembur.
  • Biaya tidak langsung yaitu biaya yang secara tidak langsung ikut menentukan proses produksi. Misalnya penggunaan listrik.
Penentuan Laba
Penentuan jumlah prosentase (%) laba berdasarkan target atau keinginan dari pengusaha, misalnya 10% atau berdarakan persaingan yang rata-rata misalnya 12%, kemudian laba ditetapkan 12%. Perolehan persentase laba dikalikan dengan jumlah keseluruhan biaya langsung ( jasa disain, bahan pokok, bahan pelengkap, ongkos pembuatan ) ditambah dengan biaya tidak langsung dan biaya tetap.
Penentuan besar pajak
Penentuan besarnya pajak yaitu % dari ( harga pokok produksi + laba ). Besarnya persentase pajak sekitar 5% dapat berubah tergantung dari lamanya sewa gedung.
Berikut ini contoh cara menghitung harga jual busana.
Sebuah butik “Anindya Fashion” membuatkan busana pesta seorang pelanggannya dengan pengeluaran untuk bahan baku sebanyak Rp.125.000,00, jasa desain Rp. 10.000,00, bahan pembantu Rp. 7.500,00, bahan pelengkap Rp.25.000,00, ongkos jahit sebesar Rp.50,000,00 ( jahit + payet ), biaya penyusutan Rp.10.000,00, biaya sewa gedung Rp. 5.000,00 dengan laba 12% dan pajak 5%.
Berikut ini contoh cara perhitungannya.
harga jual
Dari perhitungan tersebut dapat diperoleh harga jual sebesar Rp.272.420.00, dari hasil tersebut kita bulatkan menjadi Rp. 275.000,00.

Kamis, 05 September 2019

Materi sistem konsinyasi kelas XII tgl 5 sept 2019

1.      PENGERTIAN PENJUALAN KONSINYASI
Menjelaskan definisi dan pengertian penjualan konsinyasi. ( sumber : 5 artikel dengan rincian 3 artikel bahasa Indonesia, 2 artikel bahasa inggris)
2.      KARAKTERISTIK DAN KEUNTUNGAN PENJUALAN KONSINYASI
Menjelaskan tentang karakteristik penjualan konsinyasi dan keuntungan penjualan konsinyasi. (Sumber: 3 artikel)
3.      METODE PENJUALAN KONSINYASI
Memaparkan tentang metode yang digunakan dalam penjualan konsinyasi ( Sumber : 1 artikel)
4.      PAJAK BARANG KONSINYASI
Memaparkan pajak yang berkaitan tentang barang konsinyasi. (Sumber:1 artikel)



KONSINYASI

1.      PENGERTIAN PENJUALAN KONSINYASI[1]
Pengertian konsinyasi (consignment) adalah suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barangnya kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan memberikan komisi tertentu.
Pemilik yang memiliki barang atau yang menitipkan barang disebut pengamanat (consignor), sedang pihak yang dititipi barang disebut disebut komisioner (consignee). Bagi pengamanat barang yang dititipkan kepada pihak lain untuk dijualkan dengan harga dan persyaratan tertentu biasa disebut sebagai barang-barang konsinyasi (consignment out), sedangkan bagi pihak penerima barang-barang ini disebut dengan barang-barang komisi (consignment in).
Dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari pengamanat kepada komisioner tidak diikuti dengan penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan. Meskipun diakui bahwa dalam transaksi konsinyasi itu telah terjadi perpindahan pengelolaan dan penyimpanan barang kepada komisioner, namun demikian „hak milik„ atas barang yang bersangkutan tetap berada pada pengamanat (consignor). Hak milik akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga.  
2.      KARAKTERISTIK DAN KEUNTUNGAN PENJUALAN KONSINYASI[2]
         Karakteristk penjualan konsinyasi yang sekaligus merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dengan transaksi penjualan yaitu :
a.       Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamanat karena hak milik atas barang-barang konsinyasi masih berada ditangan pengamanat. Barang-barang konsinyasi tidak boleh diakui sebagai persediaan oleh pihak komisioner (consignee).
b.      Pengiriman barang-barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan dan tidak boleh dipakai sebagai kriteria untuk mengakui timbulnya pendapatan, baik bagi pengamanat maupun bagi komisioner sampai barang dagangan dapat dijual kepada pihak ketiga.
c.       Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik barang tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi sejak saat pengiriman sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga. Kecuali ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua belah pihak.
d.      Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya itu. Oleh karena itu komisioner perlu menyelenggarakan administrasi yang baik dan tertib.

Rabu, 04 September 2019

Materi sistem konsinyasi kelas XII tgl 4 sept 2019

1.      PENGERTIAN PENJUALAN KONSINYASI
Menjelaskan definisi dan pengertian penjualan konsinyasi. ( sumber : 5 artikel dengan rincian 3 artikel bahasa Indonesia, 2 artikel bahasa inggris)
2.      KARAKTERISTIK DAN KEUNTUNGAN PENJUALAN KONSINYASI
Menjelaskan tentang karakteristik penjualan konsinyasi dan keuntungan penjualan konsinyasi. (Sumber: 3 artikel)
3.      METODE PENJUALAN KONSINYASI
Memaparkan tentang metode yang digunakan dalam penjualan konsinyasi ( Sumber : 1 artikel)
4.      PAJAK BARANG KONSINYASI
Memaparkan pajak yang berkaitan tentang barang konsinyasi. (Sumber:1 artikel)



KONSINYASI

1.      PENGERTIAN PENJUALAN KONSINYASI[1]
Pengertian konsinyasi (consignment) adalah suatu perjanjian dimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barangnya kepada pihak tertentu untuk dijualkan dengan memberikan komisi tertentu.
Pemilik yang memiliki barang atau yang menitipkan barang disebut pengamanat (consignor), sedang pihak yang dititipi barang disebut disebut komisioner (consignee). Bagi pengamanat barang yang dititipkan kepada pihak lain untuk dijualkan dengan harga dan persyaratan tertentu biasa disebut sebagai barang-barang konsinyasi (consignment out), sedangkan bagi pihak penerima barang-barang ini disebut dengan barang-barang komisi (consignment in).
Dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari pengamanat kepada komisioner tidak diikuti dengan penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan. Meskipun diakui bahwa dalam transaksi konsinyasi itu telah terjadi perpindahan pengelolaan dan penyimpanan barang kepada komisioner, namun demikian „hak milik„ atas barang yang bersangkutan tetap berada pada pengamanat (consignor). Hak milik akan berpindah dari pengamanat apabila komisioner telah berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga.  
2.      KARAKTERISTIK DAN KEUNTUNGAN PENJUALAN KONSINYASI[2]
         Karakteristk penjualan konsinyasi yang sekaligus merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dengan transaksi penjualan yaitu :
a.       Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamanat karena hak milik atas barang-barang konsinyasi masih berada ditangan pengamanat. Barang-barang konsinyasi tidak boleh diakui sebagai persediaan oleh pihak komisioner (consignee).
b.      Pengiriman barang-barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan dan tidak boleh dipakai sebagai kriteria untuk mengakui timbulnya pendapatan, baik bagi pengamanat maupun bagi komisioner sampai barang dagangan dapat dijual kepada pihak ketiga.
c.       Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik barang tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi sejak saat pengiriman sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga. Kecuali ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua belah pihak.
d.      Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya itu. Oleh karena itu komisioner perlu menyelenggarakan administrasi yang baik dan tertib.    
Pada pelaksanaan penjualan konsinyasi sebaiknya kontrak perjanjian antara pengamanat dan komisioner harus dibuat terlebih dahulu. Isi perjanjian biasanya terdiri dari beban-beban yang dikeluarkan oleh komisioner yang ditanggung oleh pengamanat, kebijaksanaan harga jual dan syarat kredit, komisi bagi komisioner dan laporan pertanggungjawaban oleh komisoner kepada pengamanat (account sale) yang dilakukan secara berkala atas barang-barang yang sudah terjual dan pengiriman uang hasil penjualan tersebut.
Dalam pembahasan penjualan konsinyasi ini, terdapat beberapa isitilah yang berkaitan dengan penjualan konsinyasi yaitu :
a.       Pengamanat (Consignor), yaitu pihak yang memiliki barang yang dititipkan kepada pihak lain untuk dijual.
b.      Komisioner (Consignee), yaitu pihak yang menerima titipan barang dari pengamanat untuk dijual.
c.       Konsinyasi keluar (Consignment-Out), yaitu rekening yang digunakan oleh pengamanat untuk mencatat transaksi-transaksi yang berhubungan dengan barang-barang yang dititipkan kepada komisioner.
d.      Konsinyasi  masuk ((Consignment-In),yaitu rekening yang digunakan oleh komisioner untuk mencatat transaksi-transaksi yang berhubungan dengan barang-barang milik pengamanat yang dititipkan kepadanya.
Beberapa alasan bagi pengamanat dan komisioner untuk mengadakan penjualan kosinyasi sebagai berikut :
1.      Merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk memperluas daerah pemasaran terutama untuk barang-barang yang :
a.       Merupakan produk baru yang permintaan akan barang tersebut masih belum dapat diprediksi.
b. Membuka devisi penjualan disuatu daerah investasinya sangat mahal investasinya.
c.       Penjualan melalui dealer tidak menguntungkan pada tahun-tahun yang lalu.
d.      Barang tersebut mahal harganya sehingga dealer memerlukan investasi yang besar bila membelinya, dan
e.       Fluktuasi harga barang tersebut sangat besar sehingga dealer tidak mau membelinya.
2.      Barang konsinyasi tidak ikut disita apabila terjadi kebangkrutan pada pihak komisioner sehingga risiko kerugian dapat ditekan.
3.      Harga barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh pengamanat, hal ini disebabkan kepemilikan atas barang tersebut masih ditangan pengamanat, sehingga harga masih dapat dijangkau oleh konsumen. Pengawasan harga ini akan sulit jika menggunakan sistem penjualan melalui dealer yang kepemilikan barangnya sudah ditangan dealer itu sendiri.
4.      Jumlah barang yang dijual dan persediaan barang yang ada digudang mudah dikontrol sehingga risiko kekurangan atau kelebihan barang dapat ditekan dan memudahkan untuk rencana produksi.

Senin, 02 September 2019

Barang menurut kegunaanya kelas X tgl 2 september 2019

Apa saja macam-macam Jenis barang menurut kegunaannya dan Jenis barang menurut proses produksinya?


Jenis-jenis Barang
Selain menurut wujudnya, alat pemuas kebutuhan dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis. Jenis-jenis alat pemuas kebutuhan tersebut, antara lain sebagai berikut.
a. Jenis barang menurut cara memperolehnya
Pemuas kebutuhan dapat dibedakan menurut besarnya pengorbanan yang kita lakukan untuk memperolehnya.

1. Barang ekonomi
Barang ekonomi adalah barang pemuas kebutuhan yang untuk memperolehnya memerlukan sejumlah pengorbanan tertentu yang biasanya berupa uang. Misalnya, untuk memperoleh makanan kita harus mengeluarkan sejumlah uang. Uang tersebut adalah sebuah pengorbanan.

2. Barang bebas
Barang bebas adalah barang pemuas kebutuhan yang tersedia hampir tidak terbatas sehingga untuk memperolehnya kita tidak membutuhkan pengorbanan dan dapat mengambilnya begitu saja di alam. Misalnya, udara untuk bernapas, pasir di padang pasir,dan es di kutub
Barang jadi berupa pakaian
yang sudah siap dipasarkan
3. Barang illith
Barang illith adalah barang yang dibutuhkan tapi jika barang ini melebihi dari yang dibutuhkan justru akan merugikan dan berbahaya. Misalnya, air dan api.

b. Jenis barang menurut kegunaannya
Menurut kegunaannya, barang atau alat pemuas kebutuhan dapat digolongkan menjadi dua.
1. Barang konsumsi
Barang konsumsi adalah barang siap pakai karena manfaatnya langsung dapat diambil. Misalnya, makanan, minuman, dan pakaian.

2. Barang produksi
Barang produksi adalah barang yang berguna untuk menghasilkan barang yang lain. Barang produksi merupakan istilah lain dari barang modal. Misalnya, mesin jahit dan radio.''


c. Jenis barang menurut proses produksinya
Menurut proses produksinya, barang dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Barang mentah (bahan baku)
Barang mentah adalah bahan dasar untuk membuat barang lain.Barang ini sama sekali belum mengalami proses pengolahan. Misalnya, kapas, kayu, dan hasil tambang.

2. Barang setengah jadi
Barang setengah jadi adalah barang yang telah melalui proses pengolahan, tetapi belum dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan karena belum menjadi produk akhir. Misalnya, kain untuk membuat pakaian, besi untuk untuk membuat pisau, dan terigu untuk membuat kue.


3. Barang jadi
Barang jadi merupakan produk akhir yang telah melalui proses pengolahan dari bahan baku menjadi bahan setengah jadi sampai menjadi barang yang siap pakai untuk memenuhi kebutuhan manusia.
d. Jenis barang menurut hubungannya dengan barang lain
Setiap barang pemuas kebutuhan mempunyai hubungan dengan  barang lainnya sesuai dengan fungsi dan peranannya, yaitu sebagaiberikut.

a. Barang substitusi
Barang substitusi adalah barang pemuas kebutuhan yang fungsinya dapat menggantikan barang lain atau dapat saling menggantikan. Contohnya, gas dapat menggantikan minyak tanah sebagai bahan bakar.

b. Barang komplementer
Barang komplementer adalah barang pemuas kebutuhan yang akan bermanfaat apabila dipakai bersama-sama dengan benda yang lain. Misalnya, mobil dengan bensin, jarum dengan benang, dan kompor dengan minyak tanah.

Latihan soal PAS Kewirausahaan kelas XI

  Asalamu'alaikum anak2 ku kelas XI minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya anak2ku, ✨ Semangat kembali mengikuti Pembelajaran...